Loading...
Sunday, January 30, 2011

[Dongeng] Putri yang Tidak Dikutuk

PUTRI YANG TIDAK DIKUTUK
Oleh Maria Wiedyaningsih


Putri Erica pernah dikutuk oleh seorang penyihir jahat menjadi monster katak. Kemudian Pangeran Doca menyelamatkannya sehingga Putri Erica berubah kembali menjadi seorang putri yang cantik jelita. Mereka menikah dan hidup berbahagia sampai sekarang.

Pangeran Isaya selalu terpesona mendengar kisah kedua orang tuanya itu. Dia ingin mengembara dan mengalami kisah seperti itu. “Saya akan menyelamatkan seorang putri yang dikutuk. Kemudian akan menikah dengan putri yang cantik jelita itu.”

“Tapi, Nak, seorang wanita akan terlihat cantik jika kau mencintainya. Sebaliknya, bagaimanapun cantiknya seorang wanita, kecantikannya akan kalah dengan wanita yang kaucintai,” ujar Ratu Erica bijaksana.

“Itu benar. Ayah akan tetap mencintai Ibu bagaimanapun keadaannya,” sambung Raja Doca. Pangeran Isaya diam saja meskipun dalam hati  tidak setuju. Mungkin ayahnya tidak akan menikahi ibunya jika masih berwujud monster katak.

Kedua orangtuanya hanya berpandangan penuh arti ketika melepasnya pergi. Setelah mengembara beberapa lama, Pangeran Isaya tidak menjumpai seorang putri pun yang memerlukan pertolongannya. Akhirnya Pangeran Isaya tiba di kerajaan Raja Zola. Raja Zola mengenalnya sebagai seorang pangeran dan mengundangnya tinggal di istananya.

Pangeran Isaya  terpana ketika diperkenalkan pada Putri Auriel, putri pertama Raja Zola. Putri Auriel sungguh cantik jelita. Jauh lebih cantik dari putri-putri yang pernah dilihatnya. Dan lagi-lagi, dia juga terpana ketika berkenalan dengan Putri Argentia, adik Putri Auriel. Namun kali ini bukan karena Putri Argentia cantik jelita. Namun karena Putri Argentia sama sekali tidak cantik. Juga tidak anggun. Sangat jauh berbeda dengan Putri Auriel. “Dayang Ibu saja jauh lebih cantik dari dia,” pikir Pangeran Isaya geli.  

Maka, Pangeran Isaya berteman dengan kedua putri itu. Setelah beberapa waktu, Pangeran Isaya kembali ke kerajaannya untuk memberitahu Ayah ibunya bahwa dia telah menemukan putri impiannya. Dia kembali ke istana Raja Zola dengan banyak pengawal.

“Saya ingin meminang...,” kata Pangeran Isaya. Entah kenapa dia menjadi gugup dan terdiam. “Putri Argentia,” lanjut Pangeran Isaya.

Semua orang terkejut. Setahu para pengawalnya, Pangeran Isaya akan meminang Putri Auriel. Dan semua orang di istana Raja Zola tahu betapa Pangeran Isaya terpesona pada Putri Auriel. Tapi, kenapa yang terucap adalah Putri Argentia?

“Baiklah, terserah Putri Argentia,” putus Raja Zola, setelah pulih dari rasa terkejutnya.

“Aku menerimanya,” kata Putri Argentia tersenyum jahil.

Pangeran Isaya berkali-kali menyesali kecerobohannya dalam hati. Sementara itu Putri Argentia berjalan-jalan dengan gembira. Dia tak habis pikir kenapa Pangeran Isaya bisa salah seperti itu. Tanpa sengaja, dia mendengar percakapan dua orang pengawal Pangeran Isaya.

“Menurutmu, kapan Putri Argentia akan berubah?” ujar salah seorang dari mereka.

“Berubah bagaimana?” balas temannya tak mengerti.

“Kita tahu Pangeran Isaya ingin menyelamatkan seorang putri yang dikutuk. Kau lihat sendiri, Putri Argentia tidak cantik, jadi dia pasti dikutuk. Pangeran Isaya pasti berharap Putri Argentia berubah menjadi cantik, karena itu Pangeran Isaya meminangnya,” jelas temannya.

Putri Argentia sangat sedih mendengar hal ini. Diam-diam dia meninggalkan dua orang itu. Namun, dua orang pengawal itu ternyata mengetahui kalau Putri Argentia mendengar percakapan mereka.

Dengan cemas, mereka menemui Pangeran Isaya dan menceritakan kejadian tersebut. Pangeran Isaya terlalu cemas untuk memarahi kedua pengawal itu. Dia segera berkuda mencari Putri Argentia, setelah berpesan agar keduanya tidak bercerita pada siapapun.

Dalam kecemasannya Pangeran Isaya bertanya-tanya kenapa dia justru menyebut nama Putri Argentia dan bukannya Putri Auriel. Keduanya sama-sama pintar dan baik hati. Jika Putri Auriel disayangi semua orang karena kelembutan dan perhatiannya, Putri Argentia dicintai karena sikap ceria dan kasih sayangnya.

Pangeran Isaya menikmati saat-saat bermain musik bersama Putri Auriel. Tapi dia merasa sangat berbahagia saat berkuda bersama Putri Argentia. Pangeran Isaya senang ketika berjalan-jalan menikmati keindahan bunga bersama Putri Auriel. Tapi dia lebih bersemangat ketika berlatih pedang bersama Putri Argentia.

Diingatnya Putri Argentia yang juga pandai bermain musik, meskipun tidak sepandai kakaknya, hanya saja Putri Argentia tidak begitu sering memainkannya. Diingatnya Putri Argentia yang sepintar kakaknya dalam menulis syair puisi. Diingatnya Putri Argentia yang mahir memanah, namun karena hatinya yang lembut, dia sama sekali tidak suka berburu. 

Sekarang Pangeran Isaya tahu kenapa dia menyebut nama Putri Argentia! Meskipun tidak cantik, Putri Argentia lebih istimewa di hatinya.

Akhirnya dilihatnya Putri Argentia duduk termenung di sebuah batu di tepi danau.

Putri Argentia tersenyum menyambutnya. “Maafkan aku telah mempermainkanmu. Tapi aku geli karena kau begitu ceroboh. Sekarang, justru akulah yang sedih. Kita ulangi semua dari awal. Kau akan meminang kakakku. Akan kukatakan pada Ayah bahwa tiba-tiba aku tidak ingin menikah denganmu. Niatku dari semula memang seperti itu. Ayah tak perlu tahu kalau kau salah menyebut namaku,” kata Putri Argentia lembut. Pangeran Isaya mendengar nada sedih dalam suara itu. Sekarang dia tahu, Putri Argentia mencintainya. Tapi karena kebesaran hatinya, dia tidak sakit hati jika Pangeran Isaya lebih memilih kakaknya.

“Aku tidak salah menyebutkan nama,” kata Pangeran Isaya.

“Semua orang tahu kalau kau sangat terpesona pada kakakku,” sangkal Putri Argentia.

“Mungkin dulu begitu. Tapi, sebenarnya aku mencintaimu. Tanpa aku menyadarinya, engkaulah yang ingin kupinang. Karena itu aku menyebut namamu.”

Putri Argentia terbelalak. “Aku tidak cantik. Tapi aku tidak dikutuk. Karena itu wajahku akan tetap seperti ini selamanya.”

Pangeran Isaya memandangnya. Sekarang dia mengerti arti kata-kata ibunya. ‘Seorang wanita akan terlihat cantik jika kau mencintainya’.  “Tidak, kau cantik sekali.”

Maka, pangeran yang tampan dan putri yang tidak cantik itu menikah dan hidup berbahagia selamanya.

(Pemenang 1 Lomba Menulis Dongeng Majalah Bobo tahun 2004)[]

Image taken from : http://free-coloring-pages-kids.blogspot.com

4 komentar:

friendship said...

Selalu suka dengan karya-karyanya Mbak Wied. Ada yang punya kontaknya? Boleh dijapri ya. Makasih ^_^

KiRai said...

Satu kata: KEREN!!

ChitraSavitri said...

Gimana caranya bikin judul yg menarik?

Ida Fitrie Dwiyanto said...

aduhh aku pengen bisa buat cerita seperti ini...
acung jempol buat mba Wied deh... ^_^

 
TOP