Loading...
Sunday, February 13, 2011

[Cerpen] Mencuri, Bukan Meminjam

Mencuri, Bukan Meminjam
Oleh: Eva Y. Nukman

Andi gemas sekali. Sudah berhari-hari dia menabung untuk membeli mobil-mobilan tamiya ini. Dan sekarang, saat dia berhasil memiliki mobil-mobilan tamiyanya sendiri, tidak ada yang mau melihat. Hanya Deden yang memandanginya dengan takjub. Andi tidak heran, karena Deden memang jarang sekali punya mainan. Sementara, teman-temannya malah merubungi Ariel.

Penasaran, Andi ikut pula melongokkan kepala. Waaah... gasing! Ariel punya gasing kayak yang ada di tivi! Ariel selalu menjadi yang pertama memiliki benda-benda yang kemudian nge-trend di sekolah mereka. Terus-terang Andi kadang iri melihat barang-barang lucu yang dimiliki Ariel. Ada setip berbentuk binatang yang bisa dibongkar pasang, penggaris bergerigi yang bisa buat memotong kertas, rautan imut.

Dia tahu Mama tidak bakal mau membelikannya. Mama selalu menekankan manfaat. Kalau manfaat untuk meraut sudah didapat dari rautan seharga 500 perak, kenapa harus beli yang 5000 perak, begitu pasti kata Mama. Papa sama saja. Lebih baik uangnya untuk membeli buku, katanya. Andi memang suka membaca buku dan senang sekali setiap dibelikan buku oleh Mama.

Andi sudah mencoba menabung. Tetapi begitu uangnya terkumpul, model-model yang diincarnya sudah pada dimiliki teman sekelasnya. Atau, kalau tidak, benda itu sudah tidak dilirik lagi. Seperti mobil-mobilan tamiya ini. Mengingat itu Andi semakin gemas. Coba kalau dia tahu gasing seperti yang ada di tivi sudah dijual pula di sini, tentu dia tidak akan membeli mobil-mobilan yang sudah ketinggalan zaman ini. Sekarang, berarti dia harus menabung lagi kalau ingin punya gasing seperti Ariel.

Sejak itu semakin banyak yang bermain gasing saat istirahat. Modelnya bermacam-macam, ada yang bisa berputar miring, ada yang mengeluarkan suara, ada yang mempunyai lampu berkedip-kedip. Tetapi gasing Ariel tetap yang paling hebat, kokoh dan tidak gampang rontok.

Andi sudah mulai menabung lagi, setidaknya untuk membeli gasing seperti yang dimiliki Jefri. Jefri? Ya, Jefri. Andi betul-betul tersengat saat Jefri sudah lebih dahulu memamerkan gasingnya. Andi tahu persis keadaan keluarganya jauh lebih baik daripada keluarga Jefri. Kok Jefri bisa punya gasing lebih dulu, ya? Andi sempat berpikir alangkah enaknya mempunyai orangtua seperti orangtua Jefri, tahu selera anak sekarang.

“Kamu pengin, ya?” tiba-tiba Jefri menyodorkan gasing itu ke depan Andi sambil tersenyum menggoda.

“Ah... uh... eh....” Andi tergeragap saking kagetnya ketahuan sedang memelototi gasing Jefri.

“Alaaa ngaku saja....” kata Jefri lagi.

“Eh, iya. Eh... nggak. Mama nggak bakal ‘ngasih.”

“Lho, kok tergantung Mama? Kan kamu sudah gede, kelas lima. Usaha sendiri, dong... ya, nggak?” Jefri mengedik ke arah Toto, sobatnya.

Dari sudut matanya Andi bisa melihat Deden, teman sebangku sekaligus sahabatnya, melengos. Andi pernah membicarakannya dengan Deden. Dan Deden jelas tidak akan mampu membelinya, walau dia juga ingin. Andi tahu Deden sudah tidak mempunyai orangtua, kakaknya yang membiayainya pun hanya pegawai toko.

“Usaha? Maksudmu?” Andi tidak mengerti maksud Jefri.

“Sudah, besok kamu bawa gasing lamamu. Masih punya, kan? Lalu ikut kami sepulang sekolah. Gasing lamamu bisa menjadi gasing baru,” Toto ikut menimpali.

“Tapi aku cuma punya gasing hadiah dari sereal....”

“Nggak apa-apa, semua gasing diterima, kok,” Toto dan Jefri meyakinkan Andi.

Besoknya, sepulang sekolah, rasa penasaran yang kuat mendorong Andi untuk menerima ajakan Jefri dan Toto. Deden berusaha mencegah, “Ndi, menurutku yang mereka rencanakan bukan sesuatu yang baik.”

Keinginan Andi sudah tak terbentung lagi. Dia menjajari langkah Jefri, berjalan ke Mal Pelita, yang tidak jauh dari sekolah mereka. Dulu katanya dilarang masuk mal kalau masih pakai seragam sekolah. Nyatanya tidak ada satpam yang menghadang mereka.

Andi tidak mengerti, apa dan ke mana tujuan mereka sebenarnya. Jefri dan Toto hanya lihat sana, lihat sini. Sebentar lihat-lihat sepatu, lalu lihat-lihat mainan. Lalu... gasing! Wah.... Andi merabai gasing-gasing itu dengan ngiler. Ada yang dibungkus plastik khusus, ada pula yang di dalam kotak. Jefri dan Toto sibuk membanding-bandingkan, mengeluarkan dari kotak, walau tidak boleh. Dan tahu-tahu... menyelipkannya ke saku mereka dan memasukkan gasing-sereal Andi sebagai gantinya. Andi melongo memandangnya. Jefri malah menyuruh Andi berbalik untuk melindungi Jefry dari pandangan orang lain.

“Sudah...” Toto dan Jefri saling mengedip dan menyeret Andi keluar.

“Apa-apaan kalian?" sergah Andi.

“Tenang, nggak ketahuan, kok,” Jefri malah cengar-cengir sambil memperlihatkan gasing baru intu. “Ini untuk kamu,” katanya.

Enak sekali, Andi membatin. Sret... set... dia punya gasing baru.

“Itu, kan, mencuri...,” bagaimanapun, Andi masih sangsi.

“Nggak dong! Ini namanya meminjam, hehehe.... Nanti kalau sudah tidak kamu pakai lagi... ya, dikembalikan. Kalau keburu hancur... ya, apes saja deh.”

Jantung Andi berdegup kencang. Rasanya orang-orang bisa melihat dia bagai mumi berjalan. Tangannya berkeringat dingin. Tetapi, lihat Toto dan Jefri, mereka sudah sedemikian lihai. Mereka masih menghabiskan waktu beberapa menit lagi melihat-lihat. Kemudian pulang sambil tertawa-tawa. Walau masih deg-degan, Andi sudah bisa ikut tertawa sekarang.

Keesokan harinya, Andi baru saja akan memamerkan gasing barunya kepada Deden, namun raut wajah Deden begitu ditekuk. Diurungkannya niatnya.

“Ada apa, Den?”

“Kakakku dipecat.”

“Kerjanya di mana, sih?”

“Di Mal Pelita. Bagian mainan. Kemarin bagiannya itu kecurian beberapa mainan mahal. Kakakku harus menggantinya. Tetapi dia tidak punya uang, sudah habis buat bayar uang sekolah aku dan adik-adik. Jadinya dia dipecat, tanpa pesangon. Katanya untuk mengganti barang-barang yang hilang itu, karena dinilai lalai saat bertugas.”

Andi tak sanggup berkata apa-apa. Gasing di sakunya terasa panas dan berat sekali

(Cerita Terpilih Lomba Cerpen Guru – Bobo 2003 dan dimuat dalam kumpulan cerpen pemenang Lomba Menulis Cerpen Anak – untuk Guru, Guru Les Gratis)

1 komentar:

saptorini said...

saya suka cerpennya. jadi inget anak saya.

 
TOP