Loading...
Sunday, February 12, 2012

[Cerpen] Cincin Mama Brownies

CINCIN MAMA BROWNIES
Oleh Ary Nilandari
Cerpen Misteri Plihan Lomba Cerpen Misteri BOBO 2009
  

Setujukah kamu, kalau kukatakan Pinky Bunny adalah nama paling konyol untuk seekor anjing? Apalagi untuk anjing sejenis labrador retriever berbulu hitam, seperti aku. Entah kenapa Alicia dan Alana menamaiku seperti itu. Yang aku tahu, sejak aku berusia dua minggu dan dibeli mama mereka dari sebuah petshop, aku sudah dipanggil Pinky oleh Alicia, dan Bunny oleh Alana. Jadilah aku Pinky Bunny, kelinci merah muda.

Tapi itu belum seberapa dibandingkan perlakuan si kembar terhadapku. Mereka biasa mendandaniku seakan aku sebuah boneka atau seekor pudel. Hasilnya, aku lebih buruk dari badut manapun. Sudah menjadi sifat rasku, aku setia, penurut, dan senang bermain dengan anak-anak. Tapi tolong, jangan rok ketat dan blus berumbai. Aku sering terjungkal karenanya.

Labrador retriever itu ras pintar. Aku anjing pintar. Aku bisa mengambilkan sepatu, koran, bahkan telur rebus (kalau diberi kesempatan), tanpa merusaknya dengan gigitanku. Sayang, tampaknya keluarga majikanku tidak percaya itu. Aku tak lebih dari binatang bodoh yang mau diapakan saja asal mendapatkan makanan.

Nah, soal makanan ini lebih mengerikan. Lihat badanku! Kurus sekali. Aku kurang makan. Kadang mereka ingat untuk membelikan aku makanan khusus bergizi. Namun lebih sering, mereka hanya memberiku kue sisa. Dalam hal ini mereka sangat pemurah. Ya, Mama senang sekali membuat kue, dan paling sering membuat brownies. Karena itu aku menyebutnya Mama Brownies. Tapi brownies buatannya tak pernah sukses. Sering bantat atau gosong. Mereka hanya mencicipi sepotong lalu membuang semua sisanya ke mangkuk makananku. Aku yang kelaparan tak punya pilihan lain, bukan? 

Dan satu lagi yang membuatku sedih adalah mereka hampir tidak pernah membawaku berjalan-jalan. Aku biasa dikurung di dalam rumah, atau dirantai di halaman. Kalau sudah begini aku merindukan Jenna. Jenna itu sepupu si kembar. Dia tinggal di kota lain. Setiap kali berlibur di sini, Jenna memanjakan aku. Dia memperlakukan aku dengan layak, bahkan mengajakku berjalan-jalan dan berenang. Ya, dia tahu aku jagoan berenang. 

Jika Jenna bersiap-siap pulang, aku akan terus menguntitnya. Sudah jelas, aku ingin dibawanya pergi dari sini. Tapi Jenna hanya menepuk kepalaku. “Maaf, aku tidak bisa membawamu. Kamu milik Alicia dan Alana. Dan aku sudah punya Donika,” katanya. Donika itu kucing betina peliharaannya. Pernah Donika dibawanya menginap di sini. Kami berteman baik. Alicia dan Alana menjadi  tidak puas. Kata mereka, anjing dan kucing seharusnya bermusuhan. Ah, teori dari mana itu! 

Mereka lalu menggerakkan cakar-cakar Donika untuk menggangguku agar aku marah dan mengejar Donika. Ketika aku tidak peduli, mereka mengata-ngataiku anjing bodoh. Aku hanya mendengking pelan. Syukurlah, Donika berhasil melepaskan diri dan lari mencari Jenna.

Begitulah kehidupanku. Mungkin selamanya tidak akan berubah kalau saja tidak ada dua kejadian seru hari ini. Yang pertama, Mama Brownies kehilangan cincin permatanya. Yang kedua, Jenna datang. Mama Brownies percaya Jenna berbakat menjadi detektif. Itu sebabnya Jenna dipanggil untuk membantu menemukan perhiasan berharga itu.

Jenna mengajukan banyak pertanyaan kepada Mama Brownies. Kapan terakhir cincin itu dipakainya? Tadi pagi. Di mana biasanya cincin itu disimpan? Di kotak perhiasaan di kamar. Tapi kotak itu kosong. Kalau sedang bekerja di dapur, Mama Brownies menyimpan cincinnya di dalam cangkir  di atas kulkas. Cangkir itu sudah diperiksa, kosong. Apa saja yang telah dilakukan Mama Brownies sejak pagi hingga siang ini? Berbelanja di tukang sayur, memasak lauk pauk, membuat brownies kukus, menelepon untuk memesan gas dan air mineral galon, menemui Ibu RT yang bertamu, dan menyajikan brownies kukus kepadanya. Siapa saja selain keluarga yang telah memasuki dapur?  Tukang sayur yang membawakan ikan, dan si Tanto yang membawakan gas dan air galon.

Mama Brownies tiba-tiba menjerit, “Astaga Jenna, apakah cincin Tante dicuri salah satu dari mereka? Tukang sayur atau si Tanto?”

Jenna menggeleng. “Belum tentu, Tante. Kita tidak boleh menuduh sembarangan.”

Aku menyalak. Jenna benar. Tentu saja mereka tidak mengerti maksudku.

Tapi Jenna tersenyum memandangku. “Aku perlu bantuan Labby.”

“Labby?” tanya Mama Brownies dan si kembar terbelalak.

“Oh, aku lebih suka memanggil anjing kalian Labby, singkatan untuk Labrador. Dia sangat pintar, penciumannya super tajam, dia pasti bisa membantuku menyelidiki kasus ini.”

Ketiga majikanku menatapku tak percaya. Mama Brownies angkat bahu. “Silakan saja, Jenna. Yang penting, cincinku bisa ditemukan sebelum Om kamu datang. Cincin itu pemberiannya.”

“Kalau kamu bisa menemukan cincin itu, Pinky boleh kamu bawa pulang,” kata Alicia.

“Ya, aku juga sudah bosan dengan Bunny, yang tidak bisa apa-apa.” Kembarannya menimpali.

Jenna tertawa. “Aku akan senang sekali memelihara Labby. Ya kan, Labs?”

Aku menyalak beberapa kali menyuarakan persetujuan dan kegembiraanku. Ini tantangan bagiku. Aku harus membuktikan diri kalau ingin lepas dari Pinky Bunny untuk menjadi Labby.

Maka setelah mengikuti perintah Jenna untuk mengendus cangkir tempat cincin dan jari manis Mama Brownies, aku mulai melacaknya. Aku hapal bau cincin itu. Bau logam emas campur aroma brownies gosong dan keringat khas Mama Brownies. Dari jari manis Mama Brownies, cincin itu pernah ada di mangkuk adonan.

“Hmm…Labby, apakah kamu mengira seperti yang kukira?” Jenna bersemangat membuka dandang. Loyang brownies kukus masih ada di sana. Kosong. Aku mengendusnya. Ya, ada bau samar cincin itu di sini. Tapi benda itu sudah dibawa ke tempat lain.

Aku berkeliling dapur mencari-cari dan menemukan jejaknya menuju ruang tamu. Bau cincin itu menguat di atas meja. Di sebuah piring kue. Tapi tak ada apa-apa di atas piring.

“Itu piring kue bekas Bu RT. Oh, dia kuberi sepotong besar brownies dan semua habis disantapnya. Tapi apakah dia yang….” Mama Brownies tidak meneruskan kalimatnya. “Dasar anjing tidak punya otak, mana mungkin Bu RT mengambil cincinku.”

Aku tidak memedulikan celaannya. Kuendus tempat tisu. Cincin itu pernah di bawa ke sini. Jenna membantuku mengeluarkan tisu sampai kotaknya kosong. Tidak ada apa-apa. Aku semakin bersemangat. Mengendus udara ke arah jendela.

“Ayo Labby, aku tahu kamu semakin dekat.” Jenna menepuk kepalaku.

Aku melompat keluar dari jendela, dan membaui udara di halaman. Jenna menyusulku. Si kembar juga.

“Pasti tukang sayur,” tebak Alicia.

“Tidak. Menurutku, lebih mungkin pelakunya si Tanto,” bantah Alana.

“Tidak dua-duanya,” kata Jenna senang. “Lihat, Labby sudah menemukan cincin mama kalian!”

Aku menyalak. Di dekat tong sampah, ada gumpalan tisu berisi brownies kukus bantat yang tidak enak. Bu RT melemparkannya ke sini melalui jendela dari ruang tamu ketika Mama Brownies tidak melihatnya. 

Jenna menggunakan ranting untuk meremukkan brownies keras itu. Dan muncullah di tengah kepingan-kepingan cokelat itu sebentuk cincin emas permata.

Si kembar melonjak-lonjak memanggil mama mereka dan memuji-muji Jenna.

Jenna dengan rendah hati menunjukku. “Labby yang menemukannya, Tante.”

Oh, betapa aku mencintai anak cantik ini. Aku menyalak dan mengangkat kaki depanku.

Jenna tertawa. “Tante, Labby mungkin mau menjelaskan, cincin ini lolos dari jari Tante sewaktu Tante membuat adonan. Lalu ikut terkukus di dalam brownies. “

Tante memeluk Jenna dengan bahagia. “Terima kasih Jenna. Terima kasih Labby. Kalian pasangan detektif yang hebat.”

Itu pengakuan luar biasa. Artinya, sejak saat itu aku resmi menjadi milik Jenna. Senangnya… Tak ada lagi si Pinky Bunny dengan rok berenda dan topi kerucut. []

Image taken from : http://retriver-anjingras.blogspot.com/2010/06/labrador-retriver.html

1 komentar:

rika daniel said...

very nice story! :)

 
TOP