Loading...
Sunday, February 12, 2012

[Dongeng] Safir Ungu dan Ketulusan Pazu

SAFIR UNGU DAN KETULUSAN PAZU
Rae Sita Patappa

Juara II, Lomba Menulis Dongeng Majalah Bobo, tahun 2005

Pazu adalah seorang petani yang tinggal di Desa Hijau. Ia berkulit hitam legam, berkepala botak, pendiam, dan bergigi nyaris ompong. Ia selalu tersenyum lebar pada semua orang, meski mereka tak mau memandangnya. Bagi semua orang di desa itu, tampilan fisik Pazu membuatnya terlihat bodoh.
Pekerjaan Pazu adalah mengerjakan sepetak sawah milik Bangsawan Doari. Pagi ini, ia sudah berada di pinggir sawah untuk bekerja.  Tiba-tiba Pazu melihat sebuah batu ungu berkilauan di rerumputan. Ia memungutnya, lalu menghampiri seorang bapak tua yang lewat.
“Maaf, Pak. Apakah Bapak tahu benda apa ini?” tanya Pazu sambil menyodorkan batu di tangannya.
Bapak itu mengamati dengan seksama, lalu berseru takjub, “Ini batu safir ungu! Batu yang langka dan sangat mahal harganya!”
“Benarkah?” tanya Pazu lagi. “Apakah aku bisa membeli sepetak sawah dengan benda ini?”
Bapak tua itu tertawa. “Kau bahkan bisa membeli berpuluh-puluh petak sawah, Anak Muda! Hmm... apa batu ini milikmu?”
Pazu menatap batu di tangannya, lalu menggeleng tegas, “Bukan. Batu ini bukan milikku.”
Dengan ditemani bapak tua itu, Pazu memutuskan pergi menemui Bangsawan Doari. Pazu menceritakan penemuan itu pada majikannya.
 “Itu pasti salah satu dari koleksi safir biruku.  Aku menyimpan safir-safirku dalam peti besi di kamarku. Tak seorangpun kuizinkan melihat benda itu. Aku juga tak pernah membawanya keluar dari rumahku,” ujar Bangsawan Doari yang tamak.
Pazu tersenyum. “Berarti Tuan Doari tidak perlu sedih. Tuan Doari tidak kehilangan satu pun dari koleksi batu safir biru milik Tuan. Batu Safir yang kutemukan berwarna ungu, bukan biru. Lagipula, Tuan kan tidak pernah membawa keluar batu koleksi Tuan dari rumah ini,” ucap Pazu.
Bapak tua yang menemani Pazu menambahkan, “Batu safir biasanya memang berwarna biru, Tuan. Tapi batu temuan Pazu berwarna ungu. Batu yang langka.”
Bangsawan Doari marah sekali mendengar itu. Ia menganggap Pazu sudah membantahnya. Bangsawan Doari memecat Pazu dan bermaksud membawanya menghadap Kepala Desa Hijau. Pazu tetap pada keputusannya.
Mereka berangkat ke rumah Kepala Desa Hijau. Pazu bersama bapak tua tadi, pergi berjalan kaki. Sementara itu, rombongan Bangsawan Doari naik kereta kuda. Begitu sampai lebih dulu, Bangsawan Doari menjalankan niat liciknya. Ia mengajak Kepala Desa Hijau bekerja sama menipu Pazu. Kepala Desa Hijau bersedia membantu, karena keuntungan penjualan safir ungu akan dibagi dua dengannya.
Ketika Pazu datang, Kepala Desa Hijau membujuk Pazu. “Batu Safir itu, kan, ditemukan di wilayah Desa Hijau. Bagaimana kalau safir itu dijual, dan uangnya kita sumbangkan untuk penduduk desa yang miskin? Pazu, kau tentu tidak keberatan, kan, jika berbuat baik untuk banyak orang?”
Pazu menatap Bangsawan Doari dan Kepala Desa Hijau bergantian. Lalu berkata, “Aku tidak keberatan menolong orang lain. Tapi tentu  saja menolong dengan harta milikku sendiri. Bukan dengan benda milik orang lain.”
Kepala Desa Hijau marah. “Tapi kau menemukan batu safir ungu itu di Desa Hijau! Jadi batu itu harus jadi milikku sebagai pimpinan wilayah ini!”
Bangsawan Doari tak bisa menerima kata-kata Kepala Desa Hijau. “Itu tidak sesuai dengan perjanjian kita! Tadi kau sudah setuju. Keuntungan penjualannya akan kita bagi dua!
Akhirnya persekongkolan Bangsawan Doari dan Kepala Desa Hijau terbongkar. Namun mereka tetap berniat membawa masalah itu kepada Raja Haga.
Beberapa hari kemudian, mereka tiba di Istana Kerajaan Werio. Pazu mengamati bendera kerajaan yang tepat berada di pintu gerbang istana. Bendera berwarna putih dengan gambar  tujuh lingkaran ungu berbentuk bunga.
Raja Haga mendengar pengaduan Bangsawan Doari dan Kepala Desa Hijau dengan teliti. Baik Bangsawan Doari maupun Kepala Desa Hijau mengakui batu safir tersebut sebagai miliknya.
“Nah, sekarang giliranmu, Anak Muda. Karena kau yang menemukan batu safir itu, maka kau yang berhak menentukan nasib benda tersebut. Apa sudah kau putuskan siapa pemilik batu safir itu?” tanya Raja Haga dengan bijak.
Pazu menatap Raja Haga cukup lama.
“Sekarang, hamba sudah tahu siapa sebenarnya pemilik batu safir ini, Tuanku.”
Bangsawan Dori dan Kepala Desa Hijau berharap-harap cemas. Sesaat lagi, seseorang di antara mereka akan menjadi pemilik safir ungu itu.
“Benarkah? Lalu, siapa pemiliknya?” tanya Raja Haga kembali.
Pazu tersenyum lebar.
“Tuanku Raja lah pemilik batu safir ungu ini. Mahkota yang dipakai Tuanku itu adalah buktinya. Ada lambang Kerajaan Werio di sana. Tapi hanya ada enam batu safir ungu sehingga bentuk bunganya tak sempurna. Ada sebuah lingkaran yang kosong di tengah-tengah bunga. Pasti di sanalah tempat batu safir ungu ini,” kata Pazu sambil membuka bungkusan hitam yang di bawanya. “Oya, hamba juga ingat. Sehari sebelum hamba menemukan batu safir ungu ini, rombongan Raja berkunjung ke Desa Hijau. Mungkin saat itulah benda ini terjatuh dari mahkota.”
Raja Haga tersenyum mendengar ketulusan Pazu. Ia menghampiri orang tua yang selalu bersama Pazu beberapa hari ini.
“Ayah sudah menemukan orang yang tepat untuk dijadikan penasihatku. Ayah memang betul.  Dengan batu safir ini, kita bisa menemukan calon penasihat yang baik.
Bapak tua itu tersenyum bijak, lalu memeluk Raja Haga. Pazu sangat terkejut. Ia tak menyangka bahwa bapak tua yang selalu bersamanya itu adalah ayah dari Raja Haga. Bangsawan Doari dan Kepala Desa Hijau lebih terkejut lagi. Kejahatan mereka, telah terbongkar dengan sendirinya.[]

Image taken from : istockphoto.com

0 komentar:

 
TOP