Loading...
Sunday, February 20, 2011

[Cerpen] Pencuri Bulan

PENCURI BULAN
Oleh: Fita Chakra

    Beberapa hari belakangan Mimi senang melongok ke luar jendela kamar ketika akan tidur. Dari jendelanya, Mimi bisa melihat bulan dengan jelas. Mimi baru menyadari, ternyata bulan sangat indah. Warnanya kuning keemasanan dan berbentuk bulat, membentuk satu lingkaran utuh yang sempurna.
    Mimi memperhatikan bulan itu. Terkadang saat awan melintas, sesaat bulan menghilang di balik awan. Tetapi kemudian sinarnya kembali menerobos sela-sela awan yang tipis. Dan bulan pun nampak utuh kembali ketika awan menjauh darinya.
    Pada hari ketiga Mimi mengamati bulan, Mimi merasa ada yang janggal. Bentuk bulan tak lagi bulat sempurna karena bagian tepinya hilang sebagian.
    ”Mengapa bulan tidak kelihatan utuh? Kemana hilangnya tepi bulan itu?” tanyanya pada diri sendiri. Mungkin ada awan yang melintas dan menutupi bulan, pikirnya. Ditunggunya sesaat. Semenit, dua menit, sampai satu jam. Tapi bentuk bulan masih tetap seperti semula. Tepi bulan hilang, membuat bulan tak lagi utuh. Mimi sedih. Siapa yang memakan bulan?
    Beberapa hari berikutnya, semakin banyak tepian bulan yang hilang. Bahkan bulan kini berbentuk sabit. Sudah separuh bagian lebih yang hilang. Mimi mulai merasa cemas.
    ”Jika bulan diambil sedikit demi sedikit, lama kelamaan bulan akan habis. Aku tak akan bisa lagi memandanginya di malam hari,” keluh Mimi seorang diri.
    Kukuk....! Kukuk....!
    Mimi menoleh. Ada seekor burung hantu bertengger di atas pohon. Burung hantu itu mengusap mulut dengan sebelah sayapnya. Mungkin burung hantu itu usai makan. Apa yang dimakannya? Jangan-jangan burung hantu itu yang memakan bulan, batin Mimi. Burung hantu itu lalu terbang entah kemana. Meninggalkan suara yang sayup-sayup hilang tertiup angin. Benarkah burung hantu yang memakannya?
    ”Tidak mungkin burung hantu bisa terbang jauh sampai ke bulan. Kata Ibu, bulan jauh sekali letaknya. Pasti bukan burung hantu yang memakannya.” Mimi berkata pada dirinya sendiri. Mimi resah. Bulan yang cantik, yang selalu dirindukannya setiap malam, kini tak lagi berbentuk bulat. Warnanya pun tak lagi kuning keemasan, melainkan berwarna kuning pucat, seperti memudar warnanya.
    Suatu hari, Mimi sungguh terkejut ketika memandang keluar jendela sebelum tidur. Bulan itu hilang! Tidak terlihat sedikitpun sisa-sisanya.
    ”Hei, siapa sebenarnya mencuri bulan?!” teriak Mimi keluar jendela.
    Hanya suara hembusan angin yang terdengar.
    ”Ayo, tunjukkan dirimu, si pencuri bulan!” teriak Mimi lagi. Dia benar-benar merasa kesal karena bulan kesayangannya lenyap tak berbekas.
    Teriakan Mimi membuat Ibu masuk ke dalam kamar Mimi dan bertanya, ” Ada apa, Mimi? Kenapa berteriak-teriak begitu?”
    Mimi menceritakan semuanya pada Ibu.
”Mimi, bulan tidak menghilang. Bulan tetap ada tetapi kita tidak bisa melihatnya karena bulan sedang berada di belahan bumi yang lain.”
    ”Bagaimana itu bisa terjadi, Bu?”
    ”Bulan dan bumi merupakan benda langit yang bergerak memutar. Karenanya kita tidak bisa selalu melihat bulan dalam bentuk yang utuh. Bulan bisa berada menghadap belahan bumi lainnya. Jika itu terjadi, kita akan melihatnya dalam bentuk sabit, setengah lingkaran, dan lingkaran yang tidak sempurna. Bulan hanya bisa terlihat sempurna setiap bulan sekali,” jelas Ibu panjang lebar.
    ”O, begitu ya, Bu. Mimi kira ada yang mencuri bulan...” kata Mimi tersipu malu.
    Ibu tersenyum lagi. ”Ayo, sekarang Mimi harus tidur. Jangan khawatir bulan akan muncul kembali sedikit demi sedikit.”
    Mimi pun merebahkan diri di kasurnya yang empuk. Rasa khawatirnya hilang.
   
Dimuat di Mombi Vol 36 Tahun 2008

0 komentar:

 
TOP