Loading...
Sunday, February 13, 2011

[Profil] Rini Nurul Badariah

Rini Nurul Badariah
Memahami Profesi Penerjemah
   
Di dunia maya, siapa yang tak mengenal nama Rini Nurul Badariah (Rini)?  Panggilan akrabnya, Rinurbad. Rini  aktif menjalin silaturahmi dan giat memberi dukungan seputar dunia buku. Ia tak segan-segan berbagi ilmu. Ia rajin mereviu buku siapa saja, lalu memajangnya di berbagai media seperti blog, milis, sesekali di koran-koran. Secara tak langsung, Rini sudah menyemangatkan banyak hati, sekaligus membantu promosi sebuah buku. Hmmm, bagaimana   tak  hendak  jatuh  sayang pada Rini?

Meski bergelut dengan segudang aktivitas di dunia maya, wanita kelahiran Sukabumi, 5 Februari 1977 ini seolah tak mau ketinggalan dalam hal melahirkan buku. Rahasia Sukses Bekerja Tanpa Kantor (Solusi Sukses, 2005), Happy-Go-Lucky! Bekerja dengan Cinta (Eviexena Mediatama, 2006), dan Lelaki yang Menangis (Akar Media, 2006), antara lain sudah duduk manis di rak toko-toko buku terkemuka. Sedangkan buku antologi bersama,   jumlahnya telah mencapai belasan.

“Tiga tahun belakangan, saya menekuni profesi sebagai  penerjemah fiksi dan non fiksi untuk beberapa penerbit, serta menjadi penyunting lepas. Saya juga salah satu kontributor tetap di wisata-buku.com dan Majalah Online Pelangi,” ujar Rini mengawali percakapan, di sebuah acara pelatihan menulis, di Bandung. Dalam balutan jilbab putih dan jaket kelabu, ia berusaha menghalau sejuknya hawa yang di-embuskan air conditioner dalam ruangan.

Berkaitan dengan profesi penerjemah yang ditekuninya, Putri Mohamad Wahyudin (alm) dan Tati Supriati ini tak memungkiri, peran keluarga dan guru sangat besar dalam melejitkan potensi.  Suasana di rumah dan di sekolah yang terbangun sedemikian rupa, mendukung minat Rini terhadap bahasa hingga akhirnya   melahirkan kecintaan pada profesi penerjemah.

Wow, apa asyiknya ya menjadi  penerjemah? Benarkah menerjemahkan adalah pekerjaan mudah, yakni hanya memindah kata dari satu bahasa ke bahasa lain?

  “Orang masih sering keliru berasumsi bahwa bila mampu berbahasa asing dengan baik, maka kita dapat menerjemahkan segala jenis teks. Padahal, kompetensi penerjemah amat beragam. Bisa dikatakan sangat sulit menemukan pakar alih bahasa yang menguasai segala bidang dengan sama baiknya,” jelas wanita lulusan Sastra Perancis Universitas Padjajaran, Bandung. Wah, benar sekali!

Rini melanjutkan, ia memilih jurusan sastra dengan nikmat karena ingin terbebas dari segala yang berbau eksak. Tetapi dalam kenyataan, ia tetap harus bertemu teks-teks berbau teknik sipil dan manajemen keuangan. “Meski sempat tergopoh-gopoh, saya wajib mengerjakannya sebaik mungkin dan terus berusaha memerkaya pengetahuan untuk menghasilkan terjemahan yang optimal,” papar Rini, yang mengaku mulai percaya diri setelah novelet berbahasa Inggris terjemahannya dimuat di majalah Femina tahun 2000 silam. 

Nah, tentang pengalaman menerjemahkan buku cerita anak, Rini punya cerita sendiri. Ia merasa, novel anak klasik adalah “jodoh” pertamanya ketika ia memutuskan terjun di dunia penerjemahan secara penuh. Ehm, siapa yang tak terkagum-kagum membaca  Pollyanna atau The Wind in the Willows versi Bahasa Indonesia? Dua novel anak klasik ini antara lain terjemahan karya Rini. Terjemahannya terbilang mulus, bahasanya lentur, sangat mengalir.

Menurut Rini, kesulitan menerjemahkan buku cerita anak, salah satunya ada di pakem bahasa.  Di Indonesia berlaku umum premis “buku anak harus berbahasa sederhana dan kalimatnya pendek-pendek”. Setelah membaca sejumlah rujukan, termasuk materi terjemahan ini, Rini merasa konsensus tersebut tidak tepat untuk masa sekarang. Sebab, anak-anak , terutama yang gemar membaca,  tentunya cerdas dan mudah mencerna teks yang lebih panjang dengan beragam tema. “Berkaitan dengan hal ini, saya kadang harus berdiskusi dengan editor, ditambah membaca ulang dan meninjau target pasar. Intinya, untuk anak-anak yang masih sangat muda, bahasa tetap harus disesuaikan,” papar Rini. Saat menerjemahkan novel anak klasik, dilema biasanya muncul karena bahasa dari penulis asli yang kerap “berbunga-bunga”. Jelas bukan perkara mudah menghadapi kendala tersebut. Rini mesti pandai-pandai mengatur siasat agar di satu sisi kepentingan pembaca diutamakan, sementara di sisi lain, orisinalitas karya penulis tetap terjaga.    

PaBers, berbicara proses, sebelumnya  Rini telah melewati perjalanan panjang demi menempa kualitas karya-karyanya. Ia pernah menjadi penerjemah dokumen secara lepas sejak tahun 1994 (biasanya makalah untuk mahasiswa, atau buku-buku rujukan yang digunakan untuk kepentingan presentasi).  Pengalaman lain yang tidak kalah membantu adalah menjadi web copywriter (2001-2004).

Bagi istri Agus Hadiyono ini, memeluk profesi penerjemah sungguh menyenangkan. Ia dapat menyalurkan hobi membacanya yang “gila-gilaan”. “Seperti halnya penulis, penerjemah pun perlu menyiapkan amunisi berupa sejumlah rujukan di samping kamus. Agar sasaran lebih mantap tertuju, diperlukan buku-buku pendamping dan naskah yang menjadi materi itu sendiri,” Rini menjelaskan tentang pentingnya penerjemah bersahabat karib dengan buku. Omong-ngomong, dari kegemaran membaca buku pulalah, Rini mampu  meretas prestasi membanggakan. Lihat saja jajaran  koleksi penghargaannya,  hasil dari mengikuti ragam perlombaan. Antara lain: Juara I Lomba Cerita Mini Indosiar.com tema Kisah Perjuangan Hidupku (2008), nominator 15 Cerpen Terbaik Lomba Cerita Hak Anak Plan International Indonesia (2004), 12 Terbaik Apresiasi Cerpen Kereta Api Komunitas Apresiasi Sastra (2008), dan  beberapa juara lomba meresensi buku.

  “Satu hal, dengan menyelami profesi ini, saya dapat “menyeberang” ke bidang lain yang saya sukai, yakni menyunting! Sekarang ini pengalaman menyunting naskah terjemahan yang saya miliki memang belum banyak, tetapi memulai sebagai proofreader pun telah mendatangkan pemahaman untuk lebih meresapi pekerjaan,” imbuh wanita pengagum buku Sisi Lain Diriku (Sidney Sheldon) dan The Highest Tide (Jim Lynch), arif. Setuju, Rin!

PaBers, seperti yang kita tahu, suka-duka dalam suatu pekerjaan  merupakan pasangan tak terpisahkan. Nah, duka sebagai penerjemah adalah ketika tenggat waktu yang disediakan penerbit terlalu rapat sedangkan tema naskah cukup berat. Hal ini bisa disiasati dengan bernegosiasi pada pihak penerbit. Duka lain, beberapa klien masih memandang remeh profesi ini, jasa dan honor ditawar rendah, atau kadang-kadang buku yang kita terjemahkan disunting habis-habisan oleh editor tanpa diskusi sebelumnya hingga akhirnya karya kita kehilangan “jejak”!

Namun terlepas dari semua itu, prospek profesi penerjemah terbilang cerah, karena cakupan bidangnya sangat luas. Ada penerjemah film, penerjemah dokumen yang juga terdiri dari spesialisasi seperti hukum, teknik, medis, serta  teknologi, penerjemah novel serta buku-buku non fiksi, interpreter, dan lain-lain.

“Siapa saja yang siap kerja keras dan mau mengembangkan wawasan, insya-allah sanggup eksis sebagai penerjemah. Pekerjaan ini bisa dilakukan secara freelance atau in house, serta tidak memandang batas umur dan latar belakang akademis,” pungkas Rini, tegas. Jangan lupa, honor penerjemah sangat lumayan. Psstt…tambahan lagi, koleksi bukumu juga akan membukit karena penerbit sering mengirimi  hadiah buku jika buku yang kamu terjemahkan naik cetak. Menggiurkan  bukan?

 Masih penasaran dengan profil Rini Nurul Badariah? Masih ingin menggali ilmu tentang profesi penerjemah atau segala sesuatu yang berhubungan dengan buku? Mampir saja ke dunia buku warna-warni Rini di:  www.rinurbad.com   atau  klik: http://rininurul.wordpress.com . Selamat menjaring ilmu bermanfaat. Semoga terilhami!*** Haya Aliya Zaki

1 komentar:

saptorini said...

saya termasuk pengagum Rinurbad,lho. Dari MP-nya yg kini sdh ditutp, Blog bacaan anak, dan skrg web sweet web-nya yang keren punya.

 
TOP